CERPEN
Oleh : Redaksi
Ramadhan 2025 datang membawa cahaya harapan bagi Indra Hadi Nugroho. Bukan hanya karena ia lebih rajin salat malam atau semakin banyak liputan sosial yang ia tulis di BPNNEWS.CO, tetapi karena satu hal: Mawar.
Gadis yang sederhana, berhijab anggun, dan tutur katanya begitu lembut. Perkenalan mereka terjadi bukan di dunia maya, melainkan dari seorang teman jurnalis. “Ndra, gue punya temen, cewek baik. Lo harus kenal deh. Beneran,” ujar temannya waktu itu.
Indra tak langsung percaya. Tapi setelah beberapa kali chat, obrolan, hingga telepon yang kadang sampai tengah malam, ia sadar… ini bukan sekadar perkenalan biasa. Ini adalah awal dari sesuatu yang dalam hati kecilnya sudah lama ia doakan.
Mawar, nama itu kini jadi semangatnya sahur, jadi penyejuk saat berbuka, jadi alasannya pulang cepat dari liputan. Indra merasa Tuhan akhirnya menghadiahinya seorang teman, sahabat, dan mungkin calon pendamping hidup.
Lalu, jelang 10 hari terakhir Ramadhan, Indra memberanikan diri mengajak Mawar buka puasa bersama. Ia tak ingin yang mewah. “Warung tenda di pinggir danau juga cukup, asal kamu nyaman,” katanya waktu itu. Mawar pun mengiyakan dengan antusias.
“Bismillah ya mas… insyaAllah aku siap ketemu.”
Indra pun bersiap. Ia pakai kemeja favoritnya—warna putih yang selalu dia pakai kalau ingin tampil rapi. Wajahnya dipoles sedikit, motor dicuci sejak siang. Ia berangkat lebih awal, ingin menjemput Mawar di rumahnya.
Namun, takdir Tuhan tak bisa ditebak manusia.
Saat motor menyusuri jalan dekat rel kereta di Tanah Tinggi, salah satu ban depannya menghantam lubang di pinggir rel yang tertutup genangan. Motor oleng, Indra terjatuh ke sisi jalan berlumpur. Bahunya terbentur, celananya sobek sedikit di lutut, kemeja putihnya penuh tanah dan debu.
Indra duduk diam. Tangannya gemetar. Bukan karena luka, tapi karena hatinya remuk. Ia melihat jam. 17.45 WIB. Waktu semakin mepet. Ia mencoba berdiri, melihat ke sekeliling. Motor lecet, wajahnya belepotan lumpur.
Ia menangis dalam diam.
“Mana pantas aku datang seperti ini…” batinnya getir.
Indra lalu memutuskan pulang ke kontrakannya. Sepanjang jalan, ia terus menunduk. Sesekali menahan tangis yang ingin pecah. Setiba di kamar, ia kirim pesan ke Mawar:
“Maaf, aku gak bisa jemput. Aku jatuh dari motor di Tanah Tinggi. Maaf, Mawar… Aku gak ingin kamu lihat aku dalam keadaan seperti ini.”
Tapi sejak itu, Mawar tak pernah membalas. Pesan tak terbaca, telepon tak dijawab. Media sosialnya sunyi. Mawar lenyap. Seolah Tuhan memang hanya ingin menghadirkan sosoknya sebentar—untuk sekadar tahu rasanya cinta yang dalam, namun tak sempat menjadi nyata.
Ramadhan pun berakhir. Tak ada ucapan selamat lebaran dari Mawar. Tak ada kabar.
Indra masih menyimpan screenshot obrolan mereka. Masih memutar voice note terakhir Mawar sebelum buka puasa hari sebelumnya. Kadang tertawa sendiri. Kadang diam lama, menatap foto terakhirnya yang tersimpan di galeri.
Malam-malam setelah Ramadhan, Indra sering duduk di rel Tanah Tinggi. Tempat ia terjatuh. Tempat ia kehilangan. Di situlah ia bicara dalam hati:
“Maaf ya, Mawar… aku cuma ingin terlihat baik di matamu. Tapi aku gagal. Dan mungkin kamu kecewa. Tapi perasaan ini… sungguh tidak pernah main-main.”
Hingga kini, ia tak tahu apakah Mawar benar-benar pergi karena kecewa, atau memang Tuhan sudah menulis takdir cinta mereka hanya sampai titik itu.
Tapi yang pasti, Ramadhan 2025 adalah Ramadhan paling indah, sekaligus paling menyakitkan dalam hidup Indra.
—
Tamat.












