OPINI PENDIDIKAN DARI ORANG TUA SISWA | BPNNEWS.CO —
Sebagai wartawan yang juga seorang orang tua, saya terbiasa bersikap kritis dan objektif. Tapi kali ini, izinkan saya menulis dengan hati—bukan sebagai jurnalis, tapi sebagai ayah dari seorang putri kecil yang kini menimba ilmu di SD Negeri Cimone 3, Kota Tangerang.
Awalnya, saya justru datang ke sekolah ini dengan niat memantau. Saya ingin menggali, mengamati, dan mengungkap fakta apabila memang ada yang janggal atau melanggar aturan di sekolah tersebut. Sebagai jurnalis, saya selalu punya naluri untuk mengkritisi setiap celah, terutama dalam dunia pendidikan yang menyangkut masa depan anak-anak.
Namun dari hari ke hari, niat itu perlahan luluh. Bukan karena saya kehilangan sikap kritis, tapi karena saya menemukan kenyataan yang sangat berbeda dari apa yang sering saya dengar di luar sana. Ternyata, semua stigma buruk yang kerap dilekatkan pada sekolah negeri tidak saya temukan di SDN Cimone 3. Justru yang saya temukan adalah ketulusan, kerja nyata, dan semangat mendidik yang menyentuh hati.
Sejak awal masuk sekolah, tepatnya saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), saya memilih untuk tidak hanya mengantar dan menunggu. Saya hadir setiap hari, memperhatikan perilaku para guru dan suasana sekolah secara langsung. Saya tidak menilai dari kejauhan, tapi menyaksikan dari dekat—dan dari situ, rasa haru mulai tumbuh.
Para guru SDN Cimone 3 memperlakukan anak-anak dengan sabar dan penuh cinta. Mereka telaten menghadapi setiap karakter anak baru, tanpa membeda-bedakan. Tidak ada tekanan, tidak ada nada tinggi—yang ada justru sapaan hangat dan senyum tulus yang membuat anak-anak nyaman dan percaya diri. Ini bukan cerita yang dilebih-lebihkan. Ini adalah realita yang saya saksikan sendiri, dari hari ke hari.
Yang membuat saya makin kagum adalah ketika menghadiri rapat orang tua murid. Kepala sekolah SDN Cimone 3 menyampaikan pesan yang sangat menyentuh hati: “Seragam tidak wajib baru. Bila masih ada seragam lama yang layak pakai, silakan digunakan.” Bahkan beliau menyarankan agar baju bekas kakak atau saudara yang masih bagus pun bisa dipakai. Kebijakan ini sederhana, tapi mencerminkan sikap empatik dan bijaksana yang sangat langka ditemukan di zaman sekarang.
Guru wali kelas anak saya pun menunjukkan profesionalisme tinggi. Beliau fokus mengajar, tidak pernah mencampuri urusan yang bukan menjadi tugasnya. Itu membuat saya sebagai orang tua merasa sangat dihargai dan tenang.
Soal buku pelajaran pun demikian. Saya sempat bertanya langsung kepada pihak sekolah terkait kebijakan penggunaan buku. Dan inilah yang saya catat dari hasil wawancara tersebut:
Buku pelajaran utama untuk seluruh siswa sudah dipenuhi oleh pihak sekolah dan dibeli menggunakan Dana BOS tahun 2024, dengan jumlah yang sesuai dengan jumlah siswa terdaftar.
Buku cetak yang dipinjamkan tidak boleh dicoret-coret atau dirusak, karena buku tersebut juga dipantau oleh pihak Inspektorat.
Buku Budi Pekerti juga telah dibeli sesuai jumlah siswa, meskipun buku edisi tahun 2024 belum versi revisi, sementara yang 2025 sudah diperbarui.
Pihak sekolah meluruskan bahwa fotokopi buku Budi Pekerti yang sempat dilakukan beberapa wali murid bukan atas paksaan atau pengkoordiniran oleh guru. Tidak ada unsur pemaksaan, dan semua dilakukan atas kesadaran mandiri.
Apabila memang ada pengadaan fotokopi atau kebutuhan lain, sekolah menegaskan bahwa itu bisa dilakukan mandiri oleh orang tua, tanpa campur tangan sekolah.
Hal lain yang juga menarik adalah bahwa SDN Cimone 3 mendapat kunjungan dari Forum Kota Tangerang Sehat (FKTS) dalam rangka penilaian sebagai sekolah sehat. Salah satu syaratnya adalah ketersediaan ruang UKS. Menanggapi itu, pihak sekolah berinisiatif memanfaatkan pojok baca sebagai ruang UKS alternatif yang dapat digunakan saat kondisi darurat, terutama ketika upacara berlangsung.
Demi keamanan dan ketertiban, anak-anak juga dihimbau untuk membawa bekal makan dan minum dari rumah. Jika tidak sempat, bisa membawa wadah kosong dan membeli makanan sebelum masuk sekolah. Kebijakan ini bertujuan agar saat jam istirahat, anak-anak tidak keluar dari lingkungan sekolah.
Pihak sekolah juga menjelaskan bahwa Lembar Kerja Siswa (LKS) sudah difasilitasi dari Dana BOS Daerah. Artinya, tidak ada lagi penjualan LKS kepada siswa karena sudah disediakan secara gratis.
Sekali lagi ditegaskan bahwa seragam sekolah tidak diwajibkan harus baru. Bahkan hingga kini, pihak sekolah belum menyiapkan seragam khusus untuk siswa baru kelas 1. Hal ini menjadi bentuk kelonggaran sekaligus kepekaan sosial yang sangat patut diapresiasi.
Pihak sekolah pun mengajak orang tua untuk bersama-sama menjaga stabilitas dan kenyamanan SDN Cimone 3. Kolaborasi sekolah dan orang tua menjadi pondasi penting agar lingkungan pendidikan tetap sehat dan harmonis.
Semua pengalaman ini membuat saya, sebagai orang tua sekaligus jurnalis yang mencintai dunia pendidikan, merasa bangga dan terharu. Di tengah banyaknya stigma negatif terhadap sekolah negeri, SDN Cimone 3 hadir sebagai contoh bahwa masih banyak institusi pendidikan yang berjalan dengan hati dan keikhlasan.
Dan tulisan ini saya buat bukan karena diundang, disuruh, atau dibayar oleh siapapun. Saya menulis karena saya merasa ada hal baik yang perlu disampaikan kepada publik. Saya bukan tipe orang yang mudah terpukau, apalagi jika itu hanya pencitraan. Saya orang yang tumbuh dengan prinsip: jika A, saya katakan A. Jika B, saya katakan B. Hidup saya dibangun di atas sikap kritis dan integritas, bukan basa-basi. Dan prinsip itu, tidak bisa dibeli oleh uang atau kepentingan apapun.
Saya juga ingin menegaskan satu hal penting di akhir tulisan ini:
Saya tidak ingin, hanya karena tulisan ini, anak saya diprioritaskan atau dibedakan dari siswa lainnya.
Biarlah anak saya tumbuh dan belajar sebagaimana mestinya, dengan kemampuannya sendiri. Kalau memang dia kurang pandai, biarkan ia berproses. Biarkan ia belajar dari kesalahan, mengulang, dan mengejar ketertinggalannya dengan usaha dan kerja keras. Saya ingin ia meraih prestasinya dari hasil perjuangan, bukan dari fasilitas atau kemudahan karena status orang tuanya.
Saya ingin anak saya tetap menjalani hari-harinya di sekolah sebagai siswa biasa, yang dihargai bukan karena siapa ayahnya, tetapi karena semangatnya dalam belajar.
Saya percaya bahwa prestasi yang diraih dengan usaha sendiri akan jauh lebih membanggakan—bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk kami sebagai orang tuanya.
Terima kasih SDN Cimone 3.
Terima kasih kepada seluruh guru dan kepala sekolah yang telah menjadi cahaya bagi masa depan anak-anak kami. Semoga semangat ini terus terjaga dan menginspirasi banyak sekolah lain di seluruh Indonesia.
{REDAKSI BPN NEWS}
















